Ditampar

by - Mei 03, 2018

Sesaat lagi, Kereta Api Lodaya akan tiba di Stasiun Kiaracondong..’
Aku mendengar sayup-sayup pengumuman yang membuatku terbangun dari tidur singkatku. Waktu menunjukkan pukul 15.45 ketika aku cek di layar handphone. Kepalaku pusing bukan main, namun aku harus bergegas untuk siap-siap turun di Stasiun Kiaracondong.
Mas-mas yang duduk tepat di sebelahku mengucap sesuatu seperti ‘hati-hati mba’ atau entahlah, aku tak ingat.. yang pasti aku membalasnya dengan senyum. Aku berjalan menyusuri gerbong dengan sedikit sempoyongan. Pusing sekali.
Kemudian aku berjalan ke depan gerbang stasiun karena biasanya driver online tidak bisa menjemput penumpang di dalam stasiun. Hal ini dikarenakan adanya kontra terhadap driver online di wilayah tersebut. Aku berjalan menyusuri pasar karena masih belum ada driver yang mem-pick-up.
Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba, aku berpapasan dengan seorang mba-mba yang kemudian bertanya ‘Teh mau nanya boleh?’. Awalnya tidak aku gubris karena kepalaku sedang pening luar biasa. Namun pada akhirnya aku menghampiri mba-mba tersebut.
“Iya, mau tanya apa teh?” ujarku sembari berjalan mendekati mba-mba tersebut.
“Teh, aku mau tanya.. teteh tau pabrik deket sini yang lagi buka lowongan ga teh?” tanya ia sembari nampak kebingungan.
“Hah? Ngga..” jawabku sembari memikirkan kemungkinan keberadaan pabrik yang ada di sekitar wilayah tersebut.
“Jadi teh, aku mau curhat aja boleh ya teh? Aku teh kayaknya mah ditipu gitu sama penyalur gitu teh, waktu itu ditawarin kerja jadi baby sitter tapi ternyata hari ini ga bisa dihubungi nomor telefonnya..” matanya berkaca-kaca, sepertinya tangisnya akan pecah beberapa saat lagi.
“Terus gimana dong teh? Teteh dari mana emang?” tanyaku.
“Aku dari garut teh, ini mau pulang aja kayaknya tapi ga ada ongkos buat naik bis..” jawabnya sembari agak terisak. Tangisnya pecah.
“Emang berapa teh ongkosnya?” tanyaku lagi.
“85 teh, atau berapa aja yg mau teteh kasih buat saya..”
“85ribu? Apa berapa?” tanyaku kemudian.
“8500 teh, 85ribu mah mahal teh saya juga ga sanggup kalo pulang harus semahal itu..” jawabnya.
Lalu aku memberikan sejumlah uang kepada mba-mba tersebut.
“Makasih pisan ya teh, teteh punya facebook ga? Nanti siapa tau ketemu lagi, saya balikin uangnya..” ujarnya.
“Ngga usah dibalikin teh, sok atuh teteh hati-hati ya pulangnya..”
Dheg
Aku merenung sepanjang jalan.
Ketika aku sering menghamburkan uang untuk pulang ke kampung halaman dengan tiket kereta seharga 85ribu, ada orang lain yang menganggap bahwa ia lebih memilih menaiki bus ekonomi dengan hanya 8500, karena tiket kereta kemahalan buatnya.
Ada orang yang susah sekali untuk mencari kerja, bahkan sampai ia ditipu dengan iming-iming kerjaan yang layak, aku kadang suka mengeluh karena kerjaanku yang menumpuk.
Kadang, kita harus sedikit ditampar dengan kenyataan untuk terus bersyukur dengan keadaan kita sekarang.

You May Also Like

0 komentar